3. Cara Menargetkan Pembeli Potensial di Google Ads

Cara Menargetkan Pembeli Potensial di Google Ads

Menargetkan pembeli potensial di Google Ads merupakan strategi untuk menjangkau orang terbaik pada waktu yang tepat. Punya 1.000 pengunjung website memang terlihat mengesankan, tetapi jika sebagian besar hanya ingin melihat-lihat tanpa niat membeli, anggaran iklan habis tanpa hasil nyata. 

Masalahnya sering bukan pada platform iklannya, melainkan pada kepada siapa iklan itu diarahkan. Banyak pemilik bisnis pernah berada di fase ini. Iklan berjalan, trafik naik, namun, penjualan tidak sebanding. 

Situasi seperti ini memunculkan kesimpulan yang keliru bahwa Google Ads tidak efektif, padahal akar masalahnya adalah strategi penargetan yang kurang presisi. Dalam hal ini, kami tentu akan membahas solusi bagaimana mengubah fokus untuk menargetkan pembeli potensial melalui pemahaman niat beli atau buying intent.

Kesalahan Umum, Terjebak pada Data Demografi Saja

Saat pertama kali beriklan, banyak orang langsung fokus pada usia, jenis kelamin, dan lokasi. Pendekatan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sering kali terlalu dangkal untuk menentukan siapa yang benar-benar siap membeli.

Contohnya sederhana. Seseorang berusia 40 tahun yang terlihat cocok dengan target pasar Anda bisa saja mengetik “jasa iklan gratis” di Google. Sementara mahasiswa berusia 22 tahun yang tampaknya bukan target utama justru mengetik “harga jasa iklan profesional”. 

Dari sisi demografi, yang pertama terlihat ideal. Dari sisi niat beli, yang kedua jauh lebih bernilai. Di Google, kata kunci yang diketik seseorang adalah cerminan dari apa yang sedang ada di pikirannya saat itu. 

Inilah yang disebut psikografi berbasis niat. Google Ads memberi peluang besar untuk membaca niat ini melalui keyword. Oleh karena itu, tips agar iklan tepat sasaran tidak cukup berhenti pada pengaturan usia atau wilayah. Kuncinya terletak pada pemilihan kata kunci yang mencerminkan kesiapan untuk membeli.

Memahami Konsep Buying Intent

Buying intent adalah tingkat kesiapan seseorang untuk melakukan pembelian. Tidak semua orang yang mencari informasi memiliki niat beli yang sama. Secara umum, kata kunci di Google bisa dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan niat pengguna.

1. Informational Keyword

Jenis ini digunakan oleh orang yang sedang mencari informasi. Mereka ingin belajar, membandingkan, atau sekadar menambah wawasan. Contoh:

  • “Cara buat iklan sendiri”
  • “Apa itu Google Ads”
  • “Tips promosi gratis online”

Orang yang menggunakan kata kunci seperti ini biasanya belum siap mengeluarkan uang. Mereka masih berada di tahap awal pencarian. Jika tujuan Anda adalah penjualan langsung, kata kunci ini kurang tepat untuk difokuskan.

2. Navigational Keyword

Keyword navigasional digunakan ketika seseorang sudah tahu ke mana ingin pergi, tetapi menggunakan Google sebagai jalan pintas. Contohnya, yaitu:

  • “Login Google Ads”
  • “Website resmi marketplace tertentu”

Jenis ini juga bukan target ideal untuk penjualan produk atau jasa Anda, karena pengguna sudah memiliki tujuan spesifik yang tidak berkaitan dengan penawaran Anda.

3. Transactional atau Commercial Keyword

Inilah kelompok paling penting untuk menargetkan pembeli potensial. Keyword ini menunjukkan bahwa seseorang sedang mempertimbangkan pembelian atau siap melakukan transaksi. Adapun contohnya:

  • “Jasa Google Ads Jakarta”
  • “Harga konsultan iklan online”
  • “Beli sepatu lari original”
  • “Laundry sepatu terdekat”

Orang yang mengetik kata-kata seperti ini tidak lagi sekadar mencari tahu. Mereka sedang mencari solusi dan bersiap membayar untuk itu.

Contoh Nyata dari Bisnis Sehari-hari

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan dua jenis bisnis: penjual sepatu dan jasa cuci sepatu. Untuk penjual sepatu: Keyword seperti “cara membersihkan sepatu putih” bersifat informasional. Sementara “beli sepatu lari pria original” bersifat transaksional.

Untuk jasa cuci sepatu: Keyword “jenis bahan sepatu” tidak menunjukkan niat menggunakan jasa. Namun “cuci sepatu terdekat” jelas menunjukkan kebutuhan yang siap dipenuhi.

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar pada performa iklan. Dengan memilih keyword yang salah, iklan akan sering muncul di depan orang yang tidak berniat membeli. Biaya tetap keluar, hasil tidak sebanding.

Filter Penonton vs Pembeli

Salah satu kekuatan utama Google Ads adalah kemampuannya menyaring siapa yang melihat iklan Anda berdasarkan kata kunci yang sangat spesifik. Di sinilah peran pengaturan teknis sederhana namun krusial.

Menggunakan Match Type yang Lebih Terkontrol

Google Ads menyediakan beberapa jenis pencocokan kata kunci. Dua yang sering digunakan untuk menjaga relevansi adalah:

  • Phrase Match: Iklan muncul ketika pencarian mengandung frasa utama yang Anda tentukan.
  • Exact Match: Iklan muncul pada pencarian yang sangat mirip atau sama dengan kata kunci yang dipilih.

Dengan pendekatan ini, Anda bisa mengurangi kemungkinan iklan tampil pada pencarian yang terlalu umum atau tidak relevan.

Memanfaatkan Negative Keywords

Nah, ini adalah langkah penting yang sering diabaikan. Negative keyword berfungsi untuk mencegah iklan muncul ketika pencarian mengandung kata tertentu yang tidak diinginkan. Beberapa contoh kata yang sering perlu diblokir jika Anda menjual jasa berbayar:

  • Gratis
  • Murah sekali
  • Tutorial
  • Cara
  • Download

Kata-kata tersebut biasanya diketik oleh orang yang ingin solusi tanpa biaya atau hanya ingin belajar sendiri. Dengan memasukkannya sebagai negative keyword, Anda menyaring “penonton” sebelum mereka masuk ke “toko” Anda.

Mengubah Pola Pikir, Dari Ramai ke Relevan

Banyak bisnis terjebak pada kebanggaan semu karena melihat angka trafik tinggi. Padahal, trafik tanpa kualitas tidak memberi dampak besar pada penjualan.

Pendekatan yang lebih sehat adalah mengejar relevansi, bukan sekadar keramaian. Seratus pengunjung yang memang sedang mencari produk Anda jauh lebih berharga daripada seribu pengunjung yang hanya lewat tanpa niat jelas.

Di sinilah strategi menargetkan pembeli potensial menunjukkan kekuatannya. Dengan memahami niat di balik kata kunci, iklan menjadi lebih tepat sasaran. Biaya per hasil pun cenderung lebih efisien karena sistem belajar dari interaksi yang lebih berkualitas.

Buying Intent Membuat Anggaran Lebih Efisien

Saat iklan hanya muncul pada pencarian dengan niat beli tinggi, setiap klik memiliki peluang konversi yang lebih besar. Artinya, Anda tidak perlu selalu menaikkan anggaran untuk melihat hasil.

Banyak kasus menunjukkan bahwa setelah penargetan keyword diperketat dan kata-kata tidak relevan diblokir, jumlah klik memang turun. Namun, jumlah prospek atau penjualan justru meningkat. 

Bagi pemilik bisnis, perubahan ini sangat berarti. Anggaran marketing tidak lagi terasa seperti biaya tak terkontrol, melainkan investasi yang bisa dianalisis dan ditingkatkan secara bertahap.

Target yang Tepat Adalah Pondasinya

Menargetkan orang yang tepat melalui keyword dengan buying intent tinggi adalah langkah besar menuju iklan yang lebih efektif. Namun, strategi ini belum lengkap tanpa kemampuan mengukur hasilnya secara akurat.

Anda bisa saja berhasil mendatangkan banyak calon pembeli ke website. Tetapi jika tidak tahu dari mana penjualan benar-benar berasal, keputusan berikutnya tetap akan terasa seperti menebak.

Oleh karena itu, setelah memahami cara menyaring audiens agar iklan tepat sasaran, langkah selanjutnya adalah memastikan setiap hasil bisa dilacak dengan benar.

Penutup

Sekarang Anda sudah mengantongi strategi untuk mendatangkan orang yang siap beli ke website Anda. Tapi hati-hati, strategi targeting terbaik pun akan sia-sia jika Anda tidak bisa melacak dari mana penjualan itu datang. Tanpa sistem pelacakan (conversion tracking) yang akurat, Anda akan kembali berjudi dengan mata tertutup.

Menargetkan pembeli potensial membuat anggaran iklan jauh lebih efisien. Anda tidak selalu membutuhkan dana besar untuk mendapatkan hasil. Yang dibutuhkan adalah ketepatan membaca niat di balik setiap pencarian.

Fokus pada keyword dengan buying intent tinggi membantu iklan tampil di depan orang yang memang sedang mencari solusi, bukan sekadar ingin tahu atau mencari yang gratis. Dari sinilah kualitas trafik meningkat dan peluang penjualan menjadi lebih besar.

Dian Nugroho
Dian Nugroho

SEO Lead di Marketz 10X Digital Agency. Dian Nugroho telah mempelajari SEO dari tahun 2016 dan terus belajar dari berbagai sumber. Berpengalaman dalam membantu banyak klien dari berbagai industri. Selain SEO, juga cukup berpengalaman dalam mengelola website, mulai dari pembuatan website hingga optimasi teknikal.

Articles: 10